Apa Itu COVIDIOT, Apakah Anda Salah Satunya ?


Hallo Sobat MasBe Mengini, Terimakasih bagi sobat yang sudah mampir kembali di situs ini setelah lama saya absen menulis.

Kali ini, coba saya bahas tentang istilah "COVIDIOT" yang belakangan mulai populer di masyarakat khususnya bagi pengguna Sosial Media

Apa itu "Covidiot ?"

Dilansir dari situs Health, kamus Macmillian mendefinisikan Covidiot sebagai “Istilah 'penginaan' bagi seseorang yang mengabaikan anjuran atau petunjuk kesehatan tentang Covid-19”.

Istilah Covidiot tersebut ditujukan kepada orang-orang ‘bodoh’ yang bersikap seolah-olah tidak ada yang berubah setelah adanya pandemi, dan mengatakan bahwa Covid-19 adalah tipuan atau berlebihan.

Bahkan, di Indonesia masih banyak masyarakat yang mempercayai teori konspirasi dan lebih percaya hoaks yang menyesatkan soal Covid-19 daripada himbauan untuk Kesehatan.

Covidiot juga merasa marah ketika diminta untuk menggunakan masker dan protokol kesehatan lainnya, serta menganggap Covid-19 ‘hanya flu’.

Mereka juga mungkin menyatakan bahwa mengabaikan pedoman jarak jauh sosial dan peraturan lokal sebagai hak konstitusionalnya, dan tetap mengadakan atau pergi ke pesta yang digelar tanpa berpedoman pada protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Pada dasarnya, mereka yang disebut Covidiot adalah mereka yang tidak menganggap Covid-19 dan resiko virus corona sebagai sesuatu yang serius. 

Mereka berusaha menafikan apa yang disampaikan oleh Pemerintah dan komunitas kesehatan global.

Pada saat yang sama, mereka juga mungkin terlibat dalam perilaku egois, dalam artian mereka tidak menganggap sesuatu yang berhubungan dengan upaya memperlambat serta menghentikan penyebaran virus corona sebagai suatu kebaikan yang besar.

Nah, dari ciri-ciri Covidiot tersebut, siapa saja yang memenuhi syarat disebut sebagai Covidiot dan kenapa orang memilih untuk berperilaku yang berisiko seperti itu ?

Para ahli mengatakan penyebab adanya ‘Covidiot’ agak membingungkan, karena meski Covid-19 adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya, yang harus ditanggapi secara serius, tapi Covidiot cenderung meremehkannya.

Meski begitu, terdapat beberapa alasan yang mungkin dapat membantu menjelaskan kenapa seseorang bertindak seperti atau termasuk Covidiot, antara lain:

1. Mereka dalam penyangkalan (Denial).

Seorang Psikolog dari New Hampshire, John Mayer mengatakan bahwa beberapa orang tidak memahami pentingnya situasi ini.

“Mereka menyangkal bahwa virus itu ada atau sama buruknya seperti yang diproyeksikan media. Penolakan ini juga meluap-luap dalam kesombongan palsu ‘saya tidak akan terinfeksi’,” tuturnya.

2. Mereka tidak mendapatkan konsekuensi potensial dari tindakan mereka.

Dekan senior untuk penelitian klinis dan terjemahan di Universitas dari Sekolah kedokteran dan sains biomedis Buffalo Jacobs, Timothy Murphy mengatakan, para Covidiot cenderung berpikir mereka kebal terhadap virus atau tidak akan sakit parah.

Mereka tak mengindahkan himbauan, meski mereka berada dalam kondisi yang mungkin baik-baik saja, tidak berarti orang yang berinteraksi juga akan mengalami hal yang sama.

“Mereka mungkin terinfeksi, menyebarkan virus itu, dan menularkannya kepada seseorang yang akan sakit dan mati. Dalam banyak hal, itu adalah tanggung jawab sosial bagi orang untuk berkomitmen dan mengurangi penyebaran virus,” tutur Timothy Murphy.

3. Mereka berpikir mereka memberontak.

Dr. Watkins mengatakan bahwa sebagian dari populasi Covidiot hanya tidak ingin berkompromi dan berusaha memberontak terhadap norma-norma sosial.

“Hal ini telah dianggap diterima di masa lalu, tetapi tidak sekarang, di tengah suatu pandemi yang mematikan,” ujarnya.

4. Mereka cemas

Ketua Departemen Psikiatri di Rutgers New Jersey Medical School, Petros Levounis mengatakan pada saat ketidakpastian dan kekhawatiran meningkat, orang-orang cenderung berpartisipasi dengan lebih ekstrem.

“Beberapa orang sangat waspada, sementara yang lain mengatakan ‘Lagi pula tidak ada yang tahu apa-apa, dan saya tidak akan memakai masker’,”

5. Mereka impulsif

Hal ini kemungkinan besar terjadi setelah berbulan-bulan hidup di bawah pembatasan lokal, sehingga beberapa orang menjadi lebih impulsif.

“Dan ada hal-hal tertentu tentang impulsif yang tidak baik saat ini, seperti mengadakan pesta dengan 100 orang,” ucap Petros Levounis.

6. Mereka pikir ini bagian dari politik

Keamanan publik di tengah Covid-19 dianggap telah menjadi hal yang berkaitan dengan politik untuk orang-orang tertentu.

“Pada segmen lain, menjaga jarak dan mengenakan masker dianggap sebagai semacam isu politik, sama seperti aborsi atau pengendalian senjata,” ujar dr. Watkins.

7. Mereka egois

John Mayer mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah menciptakan populasi besar orang yang egois atau lebih peduli pada kepentingan diri sendiri.

“Keadaan ini telah menciptakan populasi besar orang yang lebih peduli pada kepentingan diri sendiri dan kepuasan mereka sendiri, daripada kebaikan masyarakat yang lebih besar,” katanya.

Nah itulah ulasan tentang "Apa itu Covidiot?". Dan dari antara 7 kriteria Covidiot, apakah Anda termasuk salah satunya ?

Silahkan beragument dikolom komentar.