Titip Cintaku, Kijang Kencana


Melihat wajah Evie Tamala sang Penyanyi Dangdut mengingatkanku pada Sosok seorang EM ( Eti Mulyanti). Kulit Kuning Langsat berambut ikal dan senyum manisnya tak jauh beda dengan Evie Tamala. Bukan cuma saya saja yang mengatakan begitu, tetapi siapapun yang mengenal EM di tahun 1993 itu pasti setuju dengan pendapatku ini, sehingga muncul sebuah plesetan namanya menjadi Eti Tamala.

Mengenalnya sejak menjadi teman sekelas di kelas 1 SMPN di Kawunganten Cilacap 1991, waktu itu kami masih Imut-imut dan dikatakan sebagai Anak-anak bau kencur. Tetapi rasa ketertarikan pada seseorang tentunya taq mengenal batas usia, seperti juga diriku ketika pertama kali melihatnya. Ada perasaan aneh didada atau kepala, saya kurang paham, yang jelas perasaan aneh itu membuatku penasaran dan berusaha mencari informasi tentang sosok EM yang Ceria itu.

Suatu kebetulan mungkin, karena ternyata teman sebangkuku adalah sepupu EM, namanya Wagimin ( skrg sudah Almarhum, semoga ia tenang dan mendapat rahmat disisi Allah ). Dari sanalah aku mendapat banyak informasi mengenai EM. Menurut Wagimin, EM adalah anak pertama seorang yang cukup ternama dan berada di Desanya Sarwadadi. Pantas saja dari penampilannya ia memang berbeda dari kebanyakan teman cewek lainnya. Tetapi EM bukanlah sosok Cewek yang Angkuh, tatap matanya lembut dan teduh juga sangat bersahabat. Tingkahnya lincah dan cekatan, ia juga nampak selalu Ceria. tak heran akhirnya ia pun menjadi kandidat Anggota Osis. saat itu sebuah Organisasi sekolah yang cukup diandalkan dan berpengaruh.

Melihat latar belakang EM dari keluarga yang berada, Rasa ketertarikanku sedikit memudar, karena tentu saja, itu tak sebanding denganku. Aku cuma merasa hanya akan kecewa jika aku terlalu jauh mengenalnya dan apalagi berharap banyak untuk mendapatkan perhatiannya. Akhirnya semua Rahasia Hati ini kubiarkan cukup menjadi Rahasia.

Aduh Malunya

Ada satu moment cukup berkesan ketika pada pelajaran Music aku mendapat banyak perhatian dari para Cewek dikelasku saat aku tampil menyanyikan lagu Aduh Malunya milik Julius Sitanggang diiringi genjrengan Gitar Pak Guru Makmur. Selesai pelajaran music banyak cewek dikelas memintaku menuliskan syairnya termasuk EM. Ini adalah perhatian pertama secara langsung kepadaku setelah sebelumnya aku cuma berani curi-curi pandang padanya. Dengan senang hati aku menuliskannya termasuk untuk Ani, Umi dan teman cewek lainnya.

Aku termasuk Cowok yang kaku dan terlalu rendah diri untuk banyak bergaul dengan cewek, saat itu tak satupun kelebihan yang bisa aku banggakan pada mereka, Prestasi biasa, bukan Aktivis sekolah, tak satupun skill yang menonjol dibidang apapun, makanya segala perasaan sukaku pada EM pun hanya kusimpan rapat-rapat dalam hati menjadi rahasia pribadi. Mungkin cuma Wagimin saja yang rada curiga dengan apa yang kurasakan.

Hingga pada tahun Kedua aku di Sekolah itu, aku mulai memiliki lebih banyak keberanian untuk mendapatkan perhatian dari EM. Kebetulan Kami kembali satu kelas meski dikelas B. tapi suatu kebetulan yang banyak adalah semisal, Jadwal Piket kelas yang bareng ssama EM, Kelompok Ekskul yang bareng, Deretan bangku tempat duduk yang searah, sehingga lebih mudah untuk mencuri-curi perhatian EM.

Kisah Buletin Mini

Sesuatu yang mengejutkan dari EM saat di Kelas II B ini adalah, ketika aku meluncurkan Buletin Pribadi yang kunamai MaBin untuk teman sekelas. Dan suatu ketika aku menulis Kritik pada EM dan teman se Gank nya yang suka Berdandan di Kelas. Melalui Tulisan di Buletin Mini  itu ku beranikan menulis pendapatku tentang Dandan dikelas yang berisi sedikit kritik yang lumayan pedas. tak disangka ia Membalas secara khusus kritikan itu kepadaku melalui secarik kertas yang berisi argumen dan pembelaannya.

Aku merasa ini akan menjadi rintangan buatku untuk bisa mendekatinya, tetapi pada kesempatan berikutnya, ia juga mau sedikit memujiku untuk materi tulisan yang lain. Akhirnya aku menyadari, ia sudah memiliki perhatian padaku meski sangat kecil, karena aktivitasnya sangat padat di sekolah dan dirumah, dan ia juga dikelilingi oleh cowok-cowok macho dan berada. Istilahnya saat itu, Selevel dengan dia.

Perhatianku hanya bisa kutunjukan melalui catatan-catatan kecil di Buletin Miniku yang mulai banyak dibaca teman-teman. Karena hanya itu saja yang bisa kuperbuat untuk mengutarakan pendapatku tentang berbagai hal. Metode pengajaran, kondisi sekolah, kondisi Siswa, Guru dan lingkungan sekolah menjadi materi yang kutulis secara sederhana dengan analisa sebisaku. tetapi lumayan lah, cukup mencuri perhatian teman-teman dan guru.

Agak nyeleneh dari Materi bahasan Buletinku adalah saat aku mendengar EM sudah ditunangkan dan akan menikah setelah lulusan. Sebagai ungkapan pendapat akupun menyinggungnya di Buletin Miniku, dan reaksi EM cukup keras dengan menulis balasan kepadaku bahwa itu adalah Fitnah dan pencemaran. Dengan penjelasannya itu juga setidaknya aku tahu bahwa ia belum bertunangan...heheheh. masih ada harapan, meskipun sangat Tipis.....

Surat Pembaca MOP

Majalah MOP adalah majalah Pelajar Jawa Tengah yang cukup populer saat itu. Setiap bulan aku selalu berlangganan Media debutan Suara Merdeka Grup itu dan berusaha berpartisipasi ke redaksi. Hal yang paling mudah adalah menulis di Rubrik Surat Pembaca atau kolom Puisi dan Cerita Lucu. Rubrik Surat Pembaca menjadi langkah pertama partisipasiku di MOP. dan Alhamdulillah di muat Redaksi sehingga hampir setiap hari berdatangan Surat yang mengajak Kenalan dari sesama Pembaca diberbagai kota. Saat itu ada Istilah Sahabat Pena, dan Filateli ( Koleksi Perangko ).

Ini satu cara lagi untuk mencuri perhatiannya. dengan seringnya mendapat Surat Sahabat, tentunya aku sudah mulai memiliki popularitas, bukan saja dikalangan pembaca MOP di sekolahku, tetapi juga untuk pembaca di seluruh Indonesia. berikutnya beberapa Puisi kacangan kukirimkan ke Redaksi MOP, meski hanya satu dua saja yang berhasil lulus dan di muat, tetapi cukup membanggakan, terlebih ada Honor dari redaksi yang bisa dipakai tambahan uang Jajan.

Dengan Sedikit Popularitas itu kebiasaan Minderku agak berkurang, terlebih pada akhirnya aku sering pulang bareng dengan Neng Karnah ( NK ) teman sebangku EM yang bisa kuajak bercerita tentang EM. Sedikit banyak NK telah membantu program PDKT ku terhadap EM, tetapi tetap saja aku tak pernah berani mengungkapkan apapun padanya.

Kisah kasih di Radio

Melalui Radio Utari Cilacap dan Wijaya Kusuma aku menyampaikan segala isi hatiku. ini sudah kusinggung pada catatan Asal Usul Nama PCB. Saat itu lagu Rahasia Cinta dan Rembulan Malam milik Evie Tamala adalah kado wajib yang kuhadiahkan pada EM. Untuk mengetahui reaksinya, NK adalah Agen terpercaya yang bisa kukorek banyak informasi. Kebetulan juga, NK adalah Fans Setia Radio tersebut dengan Callsign Mojang Sunda. Namaku PCB adalah junior dalam daftar Fans Radio, jadi dengan andil NK itu pulalah namaku kian meroket di Udara.

Tak dinyana, sebuah Ungkapan salam Manis dan sayang kudengar diucapkan Penyiar untuk seorang PCB. Salam terindah dari seorang pendengar bernama Kijang Kencana itu cukup membuatku kaget dan terpana, apalagi setelah NK mengatakan bahwa Kijang Kencana itu adalah EM. Mendadak tubuhku serasa lemas dan tak tahu harus berkata apa saking bahagianya, ternyata ia selama ini telah mendengar segala ungkapan perasaanku dan sudi memperhatikannya meski melalui udara.

Tapi justru itulah, kehebohan mulai terjadi. Semua teman sekolah beramai-ramai mengirim kartu Request di Radio di berbagai Acara, dan Hubungan Asmaraku di Radio bersama EM alias Kijang Kencana pun menjadi Rahasia Publik apalagi dibeberapa reques berikutnya ia menggunakan nama aslinya. Semua Heboh dan gempar karena mereka tahu kalau aku tidak sepadan dengan EM. Sebagian kecil mensupportku, tetapi lebih banyak mencemooh dan aku menjadi bahan Olok-olokan mereka.

Surat Pertama

Kehebohan berlanjut hingga kenaikan kelas III. Kali ini aku tidak lagi sekelas dengan EM, aku di Kelas B dan dia di Kelas C. Tapi aktivitas di udara masih terus berlanjut, kehebohan juga makin menjadi. Saat itu kami menjadi lebih populer dari biasanya. Populer diperolok, maksudnya.....!
EM pun mungkin malu diperolok sebagai pacarku, tapi ia nampak lebih santai. Mungkin ia tidak peduli.

Ririn Ekawati adalah teman sekelasku yang ternyata adalah tetangga dekat EM. Beberapa kali ia sempat menanyakan perihal hubunganku dengan EM dan beberapa kali itu pula aku tak bisa menjawabnya hingga Ririn bersedia membantuku. Ia lah yang kemudian menjadi perantara Surat Pertamaku pada EM secara langsung. Surat yang hanya berisi sebaris kalimat

Dear Eti

Entah mengapa saat ini aku meng angankan mu, padahal besok ulangan Matematika


                                                                                 PCB

Surat yang tak pernah terbalas sampai hari ini. Lagian mungkin Nyeleneh kali yah?

Rahasia Terakhir

Kisah ini ditutup saat masa Ujian Akhir telah usai. Perhatian Ririn kepadaku terasa agak berbeda, tetapi aku tak ingin menduga-duga, yang pasti Ririn akhirnya membantu mempertemukan ku dengan EM secara tatap muka untuk menemukan kepastian sebelum Berpisah setelah kelulusan. Aku dan EM bertemu di Belakang Gedung Sekolah hanya berdua saja, sementara Ririn menunggu di kejauhan.

Saat berdua itulah dengan jelas aku menatap wajah EM dengan sangat dekat, menikmati keteduhan Matanya, kelembutan kulitnya dari jarak sangat dekat. Degup Jantungku begitu cepat dan membuatku berkeringat. Tapi aku melihat senyum tersimpul dibibirnya.
"Ada apa, katanya mau ketemu aku ?" Katanya
Aku tak mampu berucap, Mataku beradu dengan matanya, jantungku makin berdetak cepat, tapi senyumnya menenangkanku.
"Kamu tahu Et, kalau aku suka sama kamu?" kataku setelah kupaksakan untuk bersuara
Ia hanya menatapku dengan tajam, mungkin ini salah, aku gelisah
"Maaf, kalau aku Salah" sambungku
Dia tersenyum lagi dengan sangat dekat dan menatapku tajam.
"Enggak..kamu gak salah... ga apa-apa koq kalau kamu suka aku" Ucapnya kemudian seraya menatapku, dan aku cuma terdiam kelu.
"Tapi kita ga bisa seperti kemarin, beberapa hari lagi kita pasti berpisah, aku mau sekolah di Yogya" Lanjutnya
Aku hanya membisu, tak tahu harus mengatakan apa dan harus berbuat apa. Akhirnya aku tarik lengannya dan kuraih jemari tangannya. Secarik kertas Surat sudah ku siapkan untuknya.

"Bacalah ini, Maaf aku tak bisa melakukan apapun untukmu" kataku selanjutnya
"Mainlah sesekali kerumahku, Aku tunggu" Ujarnya kemudian 

Aku menatapnya sebelum aku melepaskan tangannya, aku melihat mata teduh itu begitu lembut menatapku, aku tak tahu apa maksudnya, karena akupun merasakan mataku berkaca.
Ada sesuatu terasa terlepas dari jiwa ini, sesuatu yang akan hilang.. entah sampai kapan. Sesuatu yang terasa terhempas seiring langkahnya meninggalkanku.

Pertemuan tak pernah ada lagi, tapi Tatapan Mata itu, hingga hari ini masih jelas di Mataku. Hadewhhh
Salam to Eti Mulyanti